Allah ﷻ berfirman: “Aku sesuai dengan prasangka hambaKu terhadapKu, dan Aku selalu bersamanya saat ia mengingatKu, jika ia mengingatKu tatkala sendiri maka Aku akan mengingatnya dalam diriKu, jika ia mengingatku dikeramaian maka Aku mengingatnya di keramaian yang lebih baik daripada itu (kumpulan malaikat). Sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah keburukan (dosa)” (Q.S. Al Hujuraat: 12). Dalam Hadits, Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa: “Jauhilah prasangka, karena sesungguhnya prasangka adalah seburuk-buruknya perkataan”. Ayat dan hadits di atas memberikan penegasan tentang buruknya prasangka dalam kerangka moral agama Islam. Studi Kitab Tafsir Mafatih Al-Ghaib Karya Ar-Razi. Ulil Azmi. BASHA'IR: JURNAL STUDI AL-QUR'AN DAN TAFSIR. Ar-Razi merupakan seorang cendekiawan yang mendedikasikan hidupnya untuk ilmu pengetahuan. Perjalanan keilmuan ar-Razi telah membawanya menjadi cendekiawan yang menguasai berbagai disiplin ilmu yang dibuktikan dengan karya-karyanya. Prasangka buruk atau buruk sangka adalah keadaan dalam hati atau keyakinan yang menjadikan kita ragu, jika dalam bahasa agama Islam yakni suudzon atau berpikir negatif. Suudzon tidak hanya di dalam hati yakni keyakinan, sifat ini muncul juga secara lisan. Contohnya prasangka buruk tentang hal yang dipercayakan kepada kita. .

aku sesuai prasangka hambaku bahasa arab